Kamis, 15 Mei 2014

MENANTANG SEMBURAN API SOPUTAN




[Sebuah Catatan Perjalanan]
Oleh Iswan Sual


18 April 2014 (Tataaran-Langowan-Pinabetengan-Pinus 1-Base Camp)

“Kyapa blum siap? So lebe tinggi matahari tu ini!” kataku setelah melirik ke jam yang terdapat di ponselku. Waktu sudah menunjukkan pukul 08.00 wita. Aku dan teman-teman lain sedang menunggu seorang gadis yang katanya tertarik untuk gabung dengan tim kami. Aku sendiri tak yakin bila gadis itu akan turut serta. Alasannya, hanya dia satu-satunya wewene yang bakal ikut serta dan kami belum saling kenal. Sedangkan kegiatan kami akan berlangsung kurang lebih tiga hari di hutan. Atau tepatnya di belantara gunung Soputan. Gadis itu tiba bersamaan dengan Handy Legi yang datang dengan membawa sebuah tabung gas. Kata mereka, setelah kutanya kenapa mereka membeli gas, mereka berikhtiar memasak beras yang telah dibungkus dengan daun kaboro semalam yang baru lalu. Sudah sempat dimasak pada jam 1 dini hari, lalu terhenti lantaran kompor kehabisan gas.
Lumayan lama kami menunggu. Untung saja masing-masing kami punya selera humor. Jadi, kami dapat membunuh waktu dengan baik. Si gadis yang bernama Miya hingga kini belum berujar sepata kata kepada kami. Kecuali kepada Yanli. Wajar saja. Mereka sudah saling kenal di kampus. Setelah salah satu dari kami memimpin doa perjalanan, kalau tidak salah Yanli yang mendapatkan kesempatan itu, kami pun mulai bergerak dan menantang cubitan mentari pagi. Keraguanku sirna tatkala melihat si Miya, seorang gadis Mongondow, juga sudah menarik tas dukung dan melemparnya ke punggungnya sendiri. Kami berjalan menuju jalan depan gereja kampus UNIMA. Disitu kami berharap dapat mencegat mobil yang kebetulan menuju ke Langowan atau Kawangkoan. Dengan cara hitchhiking pastinya. Orang Manado bilang D.O. singkatan dari Dola Oto. Secara harafiah artinya cegat mobil.
Begitu kami tiba disitu kebaktian gereja minggu hendak dimulai. Suasana terlihat mulai agak gaduh. Untuk menghormati mereka yang beribadah kami pindah ke area yang jalannya agak miring, di tempat yang agak somu-somu. Tak lagi terjangkau oleh mata jemaat geraja itu. Kurang lebih 100 meter dari depan gereja ke arah Remboken. Kami menunggu dekat pumpunan pepohonan bambu. Tiupan angin perlahan mencipta desiran di antara dedaunan dan pohon bamboo. Kami menyebutnya pohong bulu, jenis bulu taki. Yang kami tunggu adalah jenis mobil pick up atau open cap. Hanya kira-kira setengah jam kami menunggu. Bahkan mungkin kurang. Sopir yang berbaik hati menghentikan dump truck (?) yang dia kendarai tepat saat aku yang berperan sebagai hitchhiker. Kendaraan berwarna kekuning-kuningan itu penuh debu dan nampak reyot dan bocor di sana-sini. Kalau tidak ektra hati-hati, kami beresiko masuk ke dalam lubang-lubang menganga itu. Dan akan terluka oleh sayatan tajamnya.
Tak dapat digambarkan rasa senang di setiap wajah kami. Tiupan angin di atas truk yang melaju membuat kami mesti berteriak ketika bicara. Itu membuat gaduh dan seru. Hanya seorang yang tak tampak ekspresi senangnya. Ada terukir rasa pastiu atau mungkin malu bila dilihat teman-temannya di atas kendaraan berbadan besar itu. Mungkin pula karena itu pengalaman pertama sehingga gembira telah bercampur gugup.
Kami diturunkan di pasar Langowan, tepat di jalan pertigaan ke arah Tompaso, biasa kami menyebutnya Tompaso Lama. Sopir yang penuh tato itu begitu ramah dan baik hati. Barangkali, umurnya 20-an. Dengan lembut dia menyambut dan mengucap perpisahan kepada kami. Padahal kalau dia tak mengucap sepata kata, dia 100 % kelihatan seperti seorang preman alias penjahat.  Di depan bengkel yang tutup kami berenam menunggu kendaraan menuju Kawangkoan atau desa Pinabetengan. Kira-kira setengah jam kami menunggu. Yanlilah si tukang D.o-nya. Mobil open cap yang dikendarai seorang lelaki paruh baya membolehkan kami mengecap nikmat perjalanan dengan suguhan pemandangan yang sangat indah di sepanjang jalan Langowan-Tompaso. Hamparan rumah dengan beraneka gaya, sawah dan bukit-bukit kecil membuat kami larut sejenak. Nyaris saja kami lupa turun lantaran terlena oleh rayuan kemolekan wajah alam yang kami lewati.
Penakhlukan Soputan oleh Komunitas Pecinta Alam Tumondei (KPAT)


Iswan Sual di puncak Soputan
Di Perempatan kami turun. Di samping kiri ada sebuah kafe yang enak dipandang mata. Dari situ kami berjalan kaki dan menyusuri jalan beraspal kira-kira 2 kilo meter ke desa Pinabetengan. Di sebelah kanan dan kiri kami masih saja disuguhi pemandangan elok. Meski dari jauh kami bisa juga melihat Bukit Kasih dan lokasi Batu Pinabetengan. Dua situs yang berdekatan namun dikatakan orang bertentangan. Yang satu pusat agama tua/lokal, agama yang tidak diakui keberadaannya. Satunya lagi situs religius dari semua agama impor luar negeri yang diakui negara. Selain itu kami melewati stadion pacuan kuda dan Kampus Pa’dior Institut Seni Budaya Sulawesi Utara. Gambar Chaves Tiwa dan Handy Legi di tempat itu sempat kuabadikan. Mereka berdiri pas di depan papan nama besar.
Di desa Pinabetengan kami singgah di beberapa warung untuk membeli kebutuhan kami nanti selama berada di gunung: air mineral, makanan, minyak tanah dll. Udara terasa begitu panas. Matahari seolah membakar tubuh kami. Ini membuat kami harus beberapa kali berhenti  kemudian berteduh di bawah pohon. Saat baru memasuki perkebunan di luar desa, kami memutuskan berhenti untuk makan siang. Kasur pun digelar di atas rumput dan nasi kaboro serta abon dikeluarkan. Peserta yang tadinya enggan bicara sudah mulai membuka diri untuk percakapan dengan kami. Kami mulai membahas tentang kegiatan-kegiatan mahasiswa di kampus. Topik jurnalisme atau dunia tulis menulis menjadi topik yang menarik. Sembari menikmati makanan yang kuanggap lezat itu ringkikan kuda dan sapi terdengar. Sampai-sampai, ada dari kami sesekali meniru suara mereka saat sedang dalam perjalanan beberapa waktu kemudian. Sebuah metode yang cukup ampuh untuk mengusir penat dan kelelahan.
Selanjutnya kami berjalan menanjak mengikuti jalur jalan roda. Beberapa kali kami berhenti untuk menyesuaikan kecepatan langkah dengan seorang peserta yang baru kali itu nae gunung. Tapi setiap perhentian bukanlah sebuah kerugian. Sebab, waktu itulah kami bisa bercanda dan mengambil foto pemandangan yang luar biasa. Bahkan ada saja teman yang secara sukarela membagi cerita-cerita lucu. Semakin kami menanjak, pemandangan alam semakin elok nan menarik. Bukit-bukit kecil, pemandangan kota Langowan, Tondano dan danaunya, serta ladang sayur mayur yang menggiurkan. Sebelum masuk hutan kami mampir sebentar untuk duduk dekat sebuah gubuk. Dari situ kami dapat melihat dengan jelas Minahasa bagian tengah. Kira-kira 15 menit kemudian kami tiba di Pos 1. Nama lainnya adalah Pinus Satu. Dinamakan demikian lantaran area itu disarati pohon pinus. Lama kami berhenti di situ. Saya bercerita. Terkadang isinya kosong. Sedang yang lainnya larut dalam permainan. Yanli Sengkey dan Jufri Mogogibung saling lempar buah tomat yang ditinggalkan peserta yang baru turun. Di Pos 1 ini terdapat banyak tempat duduk yang terbuat dari kupas, kayu yang dibela dengan chainsaw secara agak kasar. Kami bertemu beberapa kelompok pendaki yang hendak turun. Kami berkenalan sambil berjabat tangan. Namun sayangnya, tak satu pun nama tertancap dalam ingatan. Hanya asal kampung mereka yang sempat terekam. Ada yang datang dari Ratahan, Manado, Sonder, dan Bitung. Medan jalan semakin mudah begitu kami meninggalkan Pos 1. Bukan mendaki. Lebih banyak mendatar dan kadang-kadang menurun. Kecuali saat melewati pancuran di dekat longsor. Kami harus melewati tebing sambil menaiki pohon tumbang yang menyilang. Dari situ kurang lebih lima menit kami tiba di sungai kecil, yang saya beri nama Salu Kuni’ atau sungai kuning. Kami melawan aliran sungai ini hingga tiba di sebuah pancuran lagi, yang terletak di dekat Pos 2. Juga disebut Pinus Dua atau Base camp. Sayang sungguh sayang, pancuran ini sudah nyaris penuh dengan tumpukan sampah plastik. Padahal area itu adalah area sumber air bersih terakhir yang terdekat dengan puncak gunung. Tulisan “Jangan buang sampah disini!” tidak menginsafkan para pembuang sampah itu.

19 April 2014 (Base Camp-Pos Panorama-Puncak Anak Soputan)

Mau tak mau kami harus menundah perjalanan kami ke puncak. Karena hari sudah gelap. Tambah lagi, perut kami sudah keroncongan. Dan memang, umumnya, semua pendaki mengambil langkah yang sama. Berhenti, mendirikan tenda, memasak dan makan lalu istirahat untuk mengembalikan tenaga. Dua terpal berwarna coklat cepat terpasang dan membentuk sebuah tenda kecil. Para lelaki dalam tim semua cekatan dan cepat mengambil inisiatif. Tak perlu banyak diarahkan. Cukup diberi panutan maka mereka hati mereka tergerakkan. Namun, harus kami akui bahwa peristirahatan kami tidak terlalu baik di malam itu. Udara begitu dingin. Semua lebih memilih keluar tenda dan merapat dekat api. Nyaris tak ada kelengangan di pos itu. Orang-orang terus berdatangan dan mendirikan tenda pun menjelang subuh. Pantas saja kami tak bisa beristirahat dengan baik. Sebentar-sebentar kembali ke tenda dan mengejab mata, sebentar-sebentar terbangun oleh suara gaduh para pendaki yang lain. Barangkali kami bangun sekitar jam 7 pagi. Waktu terlewati dengan kegiatan memasak, bersih-bersih dan berdiskusi. Tentang banyak hal. Selanjutnya kami packing  dan melanjutkan perjalanan. Hanya tenda yang tidak kami bongkar. Tenaga baru dan semangat yang bergelora memacuh kami berjalan tergesa-gesa menyusuri hutan menuju pos selanjutnya, Pos Panorama/Pemandangan. aku, bukan hanya aku, tetapi semua kami terkagum senang tatkalah sampai di pos itu. Di tempat itu kami mengambil foto diri kami sendiri dengan latar belakang hutan pinus dan kawah, bukit dan jurang di sebelah kiri dan kanan. Di area ini kami juga dapat mengaktifkan ponsel dan memperbaharui status jejaring sosial Facebook kami. Sekedar untuk memberitahu kepada dunia luar atau untuk menyombongkan pencapaian kami. Di pos ini aku merasa seperti menjadi salah satu pelakon dalam film Twightlight. Film Vampire yang diperankan oleh orang-orang yang berwajah rupawan. Suasana semakin dramatis ketika kami tiba di ujung pos Panorama. Di depan terbentang jurang lebar menganga. Nampak di depan dua puncak berwarna hitam. Yang tinggi sedang mengeluarkan asap. Di puncak yang agak rendah, orang bilang itu Anak Soputan, tepancang bendera merah putih. Disitulah kami hendak menuju. Waktu berdiri di teping pos Panorama, kegugupan melandah ragaku. Sempat kulontarkan kepada teman-teman bahwa mungkin aku tak berani naik.
“Mo nae jot orang? So gugup kita noh,” kataku terus terang. Bukan untuk menurunkan semangat juang mereka. Tapi lebih pada ungkapan jujur yang tak mau sok berani.
“Kalu torang, mana-mana!” kata mereka kompak. Sekejab itu moralku bangkit dan keberanian pun melompat keluar. Seperti ada tenaga luar biasa baru disuntikkan ke tubuhku.
Kami mulai pun turun. Mendahului para pendaki lain yang Nampak sudah lama berdiri dekat tebing itu. Medan terlihat sulit. Namun rasa ingin mengenggam pasir hitam puncak Soputan begitu menggebu-gebu. Sesekali kami jedah dan mengambil nafas. Kadang juga berhenti untuk minum dan makan. Darah dalam pembulu kami semakin memompa begitu kian dekat dengan puncak. Semakin dekat semakin kami menanjak. Kami harus menggunakan ampa kaki alias scrambling. Tenaga kian berkurang. Anehnya Jufri Mogogibung dan Chaves masih mampu berlari dengan cepat menantang kemiringan gunung berpasir tebal. Kira-kira pukul 12.00 kami telah berada di puncak. Disitu sudah ada dua atau tiga kelompok yang tengah bersantai ria. Mereka menyalami kami. Dan kami pun berfoto bersama. Dan momen yang tak terlupakan adalah peristiwa pembaptisan Miya Ketangrejo.
“Atas nama saya sendiri, disaksikan para bapa baptis: Jufri Soputan, Yanli Soputan, Chaves Soputan, saya membaptis kamu dengan pasir ini. Dan mulai sekarang namamu adalah Miya Ketangrejo Soputan,” kataku sembari menuangkan pasir hitam ke kepala gadis Bolmong itu.
Orang-orang agak terkesima melihat luapan emosi kami yang terkemas dalam sebuah “ritual”. Kami senang berada di puncak itu. Tapi kadang-kadang terasa mencekam bila tiba-tiba angina bertiup kencang disertai kabut tebal. Jarang pandang menjadi begitu terbatas. Kendati begitu, rasa senang dan bangga akan penakhlukan puncak Soputan terus berlanjut mengiring langkah-langkah kepulangan kami ke tenda di Base Camp. Rasa lelah perlahan melingkupi kami. Tak semua itu terbayar oleh pencapaian kami.
Dalam perjalanan pulang kami memungut kayu bakar. Dua potongan kayu yang berukuran besar dipikul oleh dua pemuda tangguh, Jufri dan Chaves. Sesampai di tenda kami membuat api dan memasak. Yang lain membersihkan diri di pancuran. Yang lain memasak air pengusir dingin. Sudah itu kami masak untuk makan malam. Kian malam kian riuh. Para pendaki dari tenda lain datang bertanda ke tenda kami. Barangkali karna Miya adalah magnetnya. Sepanjang malam Base Camp disarati riuh, canda tawa dan desiran angin yang membelai pumpunan pohon pinus.
Add caption




20 April 2014 (Base Camp-Pinus 1-Tonsewer-Tumaratas-Touure-Taraitak-Langowan-Remboken-Tataaran)

Kami bangun kesiangan. Tidak sesuai rencana awal. Setelah sarapan dan packing kami kembali menuruni jalur yang kami lewati dua hari sebelumnya. Panas mentari pagi dan gerak raga bekerjasama untuk mengalirkan keringat dari tubuh kami. Mampir mengisi air di botol air minum di pancuran. Sesekali aku berhenti dan mencium dedaunan berwarna putih karena belerang. Semakin ke bawah air dan semua yang dilewatinya berubah menjadi kuning.  Di Pancuran berikutnya, dekat longsor, kami juga mengambil air.
Tiba di Pos 1 sekitar 45 menit kemudian. Aku kaget mengetahui ternyata di pos itu terdapat kantin beratap terbal. Mereka menjual pisang goreng dan Saguer. Ingin sebenarnya mencicipi namun uang sudah taklah cukup. Taklah lama kami beristirahat di Pinus 1. Kami tak mengikuti rute melewati desa Pinabetengan lagi. Kami mengambil jalur kanan, melewati desa Tonsewer, Tumaratas, Touure, Taraitak dan Langowan. Setelah perjalanan jauh dengan kaki yag melelahkan itu, dari ujung Langowan kami dibolehkan menumpang gratis  di sebuah mobil hitam ke area pasar, dekat gereja sentrum Shwarsze. Lama kami menunggu disitu. Semua anggota tim nampak kewalahan. Dan barangkali tak sanggup lagi berjalan kaki menuju area yang kami rasa pas untuk melakukan D.O. Untung saja, sebuah mobil pickup lewat dan membawa kami ke Remboken. Kami begitu gembira. Kami turun di Remboken lalu menunggu lagi kira-kira satu jam. Disitu sebuah mobil pickup berhenti dan mengijinkan kami naik. Kami turun tepat di depan rumah pondokan Iswadi. Disitu kami bertemu tiga hari lalu. Disitu pula, kami berjabat tangan dan berjanji untuk bertemu lagi serta saling melempar lambaian tangan .

TAMPUSU: GUNUNG MUNGIL DENGAN SEJUTA KESAN




[Sebuah Reportase]

Oleh Iswan Sual


Pagi itu fajar menunaikan tugas sebagaimana mestinya. Dua hari lalu dia datang terlambat karena ditawan kawanan awan hitam. Kulihat dia menyungging sembari menebar cahya terik dimana-mana kali ini. Kadang-kadang dia mencubit kulitku. Untung saja pepohonan dengan sukarela bersedia menjadi tameng. Berat di punggung menambah beban telapak kaki menekan bumi. Kunikmati sangat perjalananku menuju kompleks perumahan Maesa Unima. Lagi-lagi, tempat itu ditetapkan sebagai titik temu pendakian kami. Pendakian kali ke gunung Tampusu. Sejam lamanya aku menanti. Sempat membeli ikan kaleng dan air minum di sebuah warung. Begitu kembali ke titik temu, belum lagi teman-teman pendaki menunjukkan batang hidung mereka. Kira-kira jam sepuluh barulah semua terkumpul. Jumlah yang tak pernah kuduga. Enam belas orang terkumpul menjadi satu tim untuk mendaki gunung Tampusu, gunung kecil yang indah. Jumlah pendaki perempuan pun lebih mencengangkan! Lima orang perempuan! Pertama dalam sejarah pendakian kami.
Kebanyakan peserta adalah mereka yang baru kali pertama mendaki bersama kami sebagai kelompok dengan nama Komunitas Pecinta Alam Tumondei. Salah satu anggota Komunitas Pecinta Alam Tekzas Tondei, Charli Lowing, juga ikutserta. Selengkapnya inilah nama-nama peserta pendakian gunung Tampusu: Yanli Sengkey, Billy Ompi, Risky Tambaani, Meldi Sual, Chaves Tiwa, Jufri Mogogibung, Randy Pangemanan, Reza Limpele, Handy Legi, Della Palapa, Helmy Kumajas, Miya Ketangrejo, Dewi Sanusi, Iswan Sual, Charli Lowing, Jenifer Djabala.
Kami bersepakat untuk melalui jalur jalan kebun. Itulah jalur terdekat. Kondisi jalan berbatu timbul. Sudah pada tahap pengerasan. Satu langkah sebelum pengaspalan. Medannya tak susah. Tanjakkan pula tak sulit. Jelas alat berat dikerahkan untuk pengerjaan jalan itu. Di saat kami menoleh ke belakang, pemandangan indah dengan latar kota Tondano, Remboken dan Danau Tondano bak suasana ruang belakang surga. Elok sangat!
Kira-kira empat kali kami melakukan pemberhentian sebelum masuk hutan dan membuka jalur baru. Jalur yang kami buka adalah jalur yang enteng dan cepat.  Meldi dan Charli sempat mengambil daun kaboro (daun pembungkus nasi di Minahasa) dalam perjalanan menuju puncak. Hujan mengguyur tatkalah tumpahan air dari langit kian banyak volumenya. Hanya Yanli dan Della yang terlindungi oleh ponco. Sedangkan lainnya harus basah kuyup.
Setelah tiba di puncak kami lanjutkan dengan menurun. Becek menyebabkan jalan licin. Beberapa kali anggota tim ada yang terperosok. Letupan tawa selalu mengiringi kejadian seperti itu. Itu menjadi semacam adegan lucu yang menghibur tatkalah pendaki tegang dan lelah berjalan. Itu menjadi semacam pemberi energi baru bagi para pendaki yang tengah dililit penat dan capek. Hanya butuh kira-kira 15 menit untuk sampai di base camp yang terletak di pinggiran danau. Danau yang nampak seram tatkalah kabut berkerumun di atasnya.
Hari ketika kami tiba dan mendirikan tenda adalah Sabtu 10 Mei  2014. Besoknya kami cabut dan hanya meninggalkan jejak. Di tempat itu kami bertemu teman-teman lain yang berasal dari Tondei. Mereka adalah Aldy Kumajas, Cupes Pangaila dan Charli Wongkar. Kami juga bertemua David Sumampow dan Tian Paat, Mahasiswa UNIMA yang sudah kerap bertemu di rumah kos Iswadi dan tempat lain.
Hari pertama kami datang hujan langsung menemani. Pun ketika kami berupaya mendirikan tenda. Tendaku yang masih baru itu tak lama. Secepat hitungan satu, dua, tiga. Tenda yang dari terpal butuh waktu lebih lama. Sehingga, meski dingin melilit kami harus terus ulet untuk menyelesaikannya. Beberapa orang dari kami lalu berinisiatif memasak air untuk membuat kopi panas. Sudah itu nasi pun tersedia. Makan malam dengan menu yang agak variatif. Selain ikan sardin, ada juga lauk dari katak yang dipungut di pinggiran dana. Handy Legi, Chaves Tiwa dan Risky Tambaani paling demen dengan kegiatan buru berburu semacam itu. Saat malam larut semua pun mencari selamat. Cari selamat dari tusukan dingin malam. Tentu saja aku dan tiga orang lain yang paling nyaman. Betapa tidak, kami mendiami tenda yang tertutup rapat. Jam demi jam terlewati dengan nyaman. Di kejauhan terdengar bentakan senior kepada para junior. Kebetulan ada kegiatan MAPALA juga disitu. Terdengar juga petikan gitar yang merdu. Lainnya hanya ledakan gelak tawa di dalam tenda. Mungkin mereka saling tukar cerita lucu.
Tak ada kewajiban bangun pagi. Karena kami sedang liburan. Tapi besoknya aku memilih bangun lebih awal. Meski harus bergulat dengan udara yang menusuk sum-sum. Ingin aku menyaksikan kabut yang digeser pelan-pelan oleh cahya mentari. Inginku melihat ekor malam yang turut bersahabat. Ingin pula ku menyaksikan nelayan dari desa terdekat melihat jerat yang dipasangnya sehari sebelum. Setelah kurasa puas dengan jalan-jalan pagi itu, aku kembali lagi. Berharap bisa membenam diri lagi di dalam sleeping bag yang masih  baru itu. Tapi, harapan itu tak bisa kuraih lagi. Seseorang, entah siapa sudah lebih dulu membenam.
Jam-jam kemudian diisi dengan mandi dan memasak. Beberapa teman sempat kulihat bermain perahu-perahuan. Mereka seperti bocah-bocah yang tak puas dengan masa kecil. Atau barangkali mereka bisa dikategorikan sebagai orang-orang yang telah bosan dengan formalitas kedewasaan yang kaku. Kedewasaan adalah keterkekangan, menurutku. Kebebasan lebih banyak dialami bocah-bocah ingusan. Mereka bisa lepas. Kadang selepas-lepasnya. Pagi ini sempat kulihat dua atau tiga rombongan meliwati tenda kami. Kuduga mereka itu dari luar daerah. Ikat kepala mereka menunjukkan bahwa asal mereka adalah pulau Bali. Rombongan lain dalah kelompok pecinta alam lokal. Semua mereka berpamit-pamitan dengan kami. Padahal semalam mereka kedengarannya begitu liar lantaran mabuk. Pagi ini sangat terlihat mereka seperti jinak.
Tak banyak yang kami lakukan sesudah itu. Hanya rapat untuk memilih pengurus tetap Komunitas Pecinta Alam Tumondei. Rapat dimulai dengan distribusi formulir calon anggota. Lalu diikuti dengan penjelasan dari Yanli Sebagai ketua sementara. Dia dan Hendy Legi menjadi pemimpin yang ditunjuk beberapa minggu yang lalu. Akhirnya Jufri Mogogibung terpilih menjadi ketua umum. Sekretarisnya Aldy Kumajas. Sedangkan bendahara adalah Meldi Sual. Tak ada yang menggugat hasil itu. Semua setuju. Habis itu pelantikan pengurus langsung dihelat. Ketiga pemimpin tertinggi itu langsung disuruh masuk ke dalam danau selama beberapa waktu hingga gigi-gigi atas bawah mereka saling menghantam dan tubuh mereka berguncang. Sudah itu ya packing. Dan bersiap untuk pulang. Kepulangan kami sedikit tertahan karena ada seseorang yang mengaku berasal dari desa terdekat, Pangolombian. Dilihat dari penampilannya, aku berani bilang umurnya 17. Kulitnya terang. Rambutnya keriwil dan berekor. Dari dia aku tahu ada buah di hutan yang selama ini aku kira tak bisa dimakan, ternyata bisa. Dari mulutnya kudengar mitos danau Tampusu. Dari mulutnya juga aku dengar bahwa sebenarnya Tampusu pernah mau dirampas Parepei dari pakasaan Remboken. Tapi bisa dihalang oleh seorang pahlawan dari pakasaan Tombulu. Tak peduli cerita itu bohong atau kosong. Yang penting adalah dia seorang anak muda di jaman modern tapi masih memiliki cukup bekal yang dibawa dari masa lalu. Tentu orang-orang tua, leluhur kita, akan bangga pada tou Minahasa macam dia yang bangga menceritakan kisah lokal, kisah turunan Toar dan Lumimuut dan bangga dengan tanahnya. Sudah jarang anak Minahasa yang seperti dia itu. Kebanyakan telah hanyut oleh budaya pop terutama  budaya yang lagi trend saat ini, K-Pop.



Pelantikan Pengurus Inti Komunitas Pecinta Alam Tumondei  (KPAT)

Senin, 05 Mei 2014

PERTANDINGAN KALIE TONDEI RAYA


oleh Iswan Sual

Model kalie
 


Ada yang lain dengan rasa rindu pulang kampungku kali ini.  Biasanya rasa ingin pulang muncul disebabkan rasa lemelo (kangen) pada orang tua dan sanak saudara. Mar, kali ini lantaran digelarnya sebuah pertandingan Kalie (kaliye) antar klub di desa Tondei raya (Baca: Tondei, Tondei Satu dan Tondei Dua). Sebenarnya permainan Kalie ini bukan sesuatu yang baru. Kami, sewaktu masih bocah, kerap memainkannya. Permainan ini biasanya dilaksanakan saat musim kemarau atau kala curah hujan tidak begitu banyak. Terang, kami membutuhkan lapangan luas dan cuaca yang bagus. Waktu itu sudah cukup lama. Tapi terasa masih segar dalam ingatan, istilah-istilah seperti: permentek (papetic), kaliber, ferlak, macet, puntel, lef, ces, dll. Permentek adalah alat pemukul. Kaliber adalah pukulan pertama dari setiap pemain yang langsung mengenai sasaran (kalie) yang tertancap pada tanah. Point yang diberikan untuk kaliber adalah 500. Pukulan  kedua biasanya dinilai dengan angka 100. Ferlak adalah pukulan kedua atau selanjutnya dalam satu putaran giliran yang dilakukan dari garis pukul. Macet adalah dimana kesempatan memukul terakhir sudah digunakan namun gagal mengenai sasaran. Puntel adalah pukulan yang menyebabkan kalie mengenai kaki (tulang kering) orang lain. Biasanya penonton. Untuk istilah lef saya lupa penjelasannya. Sedangkan ces adalah cara mengundi kelompok yang akan bermain lebih dulu. Biasanya dua orang dari kelompok berlawanan akan melakukan tos kalie di udara, lalu membiarkannya jatuh ke tanah. Kelompok atau tim pemilik kalie yang terbuka adalah tim yang pertama bermain.
barekeng poin
Seperti kataku tadi, permainan ini sejatinya biasa saja. Yang membuatnya luar biasa tahun ini adalah ketika generasi muda, melalui Kerukunan Siswa Mahasiswa Tondei, mengemas kegiatan tersebut dalam bentuk lomba yang “serius” layaknya pertandingan sepak bola atau kegiatan olahraga dan kesenian lainnya dimana ada  yang peraturan yang baku, sistem yang jelas dan kepanitiaan yang kompak. Saat aku berkunjung ke area pertandingan, aku melihat panitia bekerja dengan serius dan penuh wibawa. Ini membuat animo warga masyarakat (usia belia hingga dewasa) menjadi tinggi. Sehingga tak terdengar sedikit cibiran yang mau mengecilkan penyelenggaraan kegiatan ini. Peralatannya sangat sederhana, hanya cangkang atau tempurung kelapa dan sebilah bambu.  Yang membuat permainan menjadi menarik adalah skill atau keterampilan seseorang dalam memainkan Kalie itu. Seorang pemain yang handal adalah pemain yang memiliki ketepatan dalam mengukur pukulan dan pencapaian. Diperlukan konsentrasi yang tinggi untuk bisa menjadi seorang jagoan kalie. Bila bermain dengan ditonton beberapa orang tentu rasa gugup taklah ada. Sangat berbeda ketika ratusan pasang mata memperhatikan gaya, keseriusan dan keterampilan kita dalam bermain. Ini ujian terbesar seorang pemain kalie.
Sabtu, 3 Mei, kira-kira jam 3.30 saya tiba di desa kami, Tondei. Tanpa berlama di rumah saya bersama keponakan langsung bergegas menuju lokasi pelaksanaan kegiatan. Aku nyaris tak percaya dengan jumlah penonton yang aku lihat. Juga respon mereka terhadap kegiatan itu. Besoknya, 4 Mei, aku pergi lagi menjadi penonton. Meskipun matahari begitu terik. Semangat warga tak luntur demi menyaksikan pertandingan finalnya. Terdengar teriakan gemes, gembira dan juga sedih tatkala para pemainya berhasil atau gagal mengenai kalie lawan.
baser tu kalie di muka
Ingin saya pula turut bermain. Tapi pikiran berkata tidak. Kami harus kembali. Dipanggil oleh tuntutan pekerjaan yang menumpuk. Mungkin di lain waktu. Semoga saja, kegiatan ini akan terus berlanjut.