Senin, 07 April 2014

MELAWAN DEKAPAN BEKU PUNCAK GUNUNG KALABAT


(catatan perjalanan 29-31 Maret 2014)

Oleh Iswan Sual


Berawal dari bincang-bincang kurang serius di jejaring sosial Facebook. Itulah asal  mula rencana perjalanan kami menuju puncak gunung Kalabat. Gunung tertinggi di Sulawesi Utara. Tingginya kurang lebih 2000 meter. Ya, memang nampaknya komunikasi begitu yang lebih efektif ketimbang bertemu tatap muka untuk membicarakan program di organ kami. Ya…masing-masing-masing punya aktivitasnya. Paling banyak dari mereka adalah mahasiswa. Aku sendiri kerja di kota Manado. Anggota yang lain kerja juga di kampung kami, Tondei. Jadi, pertemuan formal tidaklah dibutuhkan untuk merencanakan program.  Memang selama ini formalitas sedapat mungkin kami jauh-jauhkan demi menghilangkan kekakuan serta kebekuan dalam organisasi kami. Karena kekakuan dan kebekuan organisasi sering membunuh kreatifitas.
Ok…saya lanjut ke tujuan utama sama membuat tulisan ini, yaitu menceritakan pengalaman kami sewaktu mewujudkan impian menakhlukkan gunung Kalabat.
Sabtu, 29 Maret 2014
Pagi-pagi sekitar jam 7 kami telah saling menghubungi menggunakan telpon genggam. Empat orang tinggal di area kampus UNIMA, kota Tondano: Yanli Sengkey, Della Palapa, Risky Tambaani dan Charli Wongkar. Empat orang lainnya tinggal di desa kami, yakni Rianto Wongkar, Chaves Tiwa, Glendi Wongkar dan Jufri Mogogibung. Saya sendiri tinggal di Manado. Demi mempermuda kami semua, saya mengusulkan agar titik pertemuan pertama adalah Tondano. Teman-teman dari desa Tondei bertemu dengan teman-teman di Tondano. Dari situ mereka bergerak menuju kota Airmadidi yang terletak di Kabupaten Minahasa Utara. Saya satu-satunya yang bergerak dari Manado menuju Airmadidi, sebuah negeri yang mayoritas orang dari sub suku Minahasa, Tonsea.
Saya tiba sekitar jam 11.30. Dan mereka yang di Tondano belum tiba. Ternyata mereka berencana hendak datang dengan cara “DO” (Dola Oto) alias mengharap diberi tumpangan oleh mobil yang kebetulan menuju ke Airmadidi. “Wow! Itu nampaknya bukan ide yang baik. Waktu yang diperlukan untuk mendapat mobil itu taklah tentu. Bisa saja saat malam,” kataku melalui telpon. “Sebaiknya kalian naik bus saja. Karena kita harus mendaki sebelum hari terlalu sore. DO bisa dilakukan saat kita pulang nanti.”
Alasannya adalah ini adalah pendakian kami yang pertama di gunung itu. Jadi harus dilakukan pada kala jalan bisa dilihat dengan jelas. Untuk mengurangi resiko tersesat di hutan belantara yang belum kami kenal.  Apalagi saat aku bicara melalui telpon hujan sedang deras-derasnya. Tambah lagi, pemilik kios dimana aku membeli kudapan dan air mineral mengatakan bahwa musim hujan biasanya mengundang linta. Wah, udah bisa dibayangkan bagaimana jadinya bila kami tersesat di malam hari sambil diserang linta.
Tak lama kemudian sebuah pesan singkat kuterima dari Della Palapa. Katanya mereka sudah berada di terminal Tumatenden Airmadidi, tapi belum bisa langsung bertemu saya karena hujan masih asyik mengguyur. Ketika hujan sudah agak redah kusarankan agar mereka mulai berjalan menuju kantor Kepolisian Sektor Airmadidi. Kami perlu melaporkan pendakian kami. Dari kejauhan kulihat rombongan dengan orang-orang yang sudah barang tentu aku kenal. Dari kostumnya dan dari gaya berjalannya. Ada senyum terukir di semua wajah. Sedikit gugup tapi nampak mereka telah membulatkan niat mendaki gunung, yang menurut informasi yang kudapat dari blog, dipenuhi pasir. Aku sih tak tak mengkhatirkanku. Karena tanah lebih sulit dilalui daripada pasir. Setidaknya, itu kudapat dari pengalamanku.
Saya mencatatkan semua nama anggota yang akan mendaki. Semua kami berjumlah 9 orang. Angka keramat bagi orang Minahasa. Karena bunyi 9 kali burung manguni, biasanya adalah tanda baik. Saat sudah diiyakan bapak polisi yang bertuga, saya meminta Rianto untuk memimpin doa perjalanan kami. Kami melakukannya tepat di pintu masuk kantor Polsek Airmadidi. Selanjutnya kami mencari kios untuk membeli bahan makanan, tali untuk tenda dan lainnya. Sayangnya di kios pertama kami tak mendapatkan minyak tanah. Menurutku itulah yang paling penting. Sebab tanpa itu kami tidak bisa memasak dan kami bisa mati kedinginan di hutan nanti. Untung saja kami bertemu anak-anak kecil yang baru saja turun dari pohon manggis yang agaknya bukan milik mereka. Basa-basi dengan mereka membuahkan hasil yang menggembirakan. Salah satu dari mereka meminta teman mereka yang memiliki sepeda motor untuk mengantar kami ke sebuah kios yang menjajahkan minyak tanah. Jaraknya lumayan jauh bila ditempuh dengan jalan kaki. Saya dan Jufry Mogogibung pergi dengan diantar oleh seorang anak yang berumur masih belasan, saya pikir. Di kios itu pemandangan yang tak mengenakkan terjadi. Pasangan suami istri memarahi habis-habisan anak gadis mereka yang sedang menjaga kios. Teriakan yang diserta makian membuat pelanggan tersentak. Tidak hanya itu. Sang ibu sempat kulihat menempeleng gadis itu. Tak tahu pasti apa sebabnya. Tapi, kemarahan orang tua meninggi waktu putrid mereka menangis sambil komat-kamit. Tentu saja, kami para pembeli, tak bisa melakukan apa-apa. Pasti akan menambah masalah. Menghilangkan masalah tanpa menciptkan masalah sulit dilakukan dalam situasi itu.
Kami melanjutkan perjalanan. Melewati “jalan tol” (highway). Disitu terlihat sebuah ikon menggelikan. Sebuah patung menora (kaki dian) besar berdiri di bukit Airmadidi utara yang menghadap ke kota Airmadidi. Pernah kubaca dari koran lokal bahwa kaki dian itu adalah yang terbesar di dunia. Mengalahkan kaki dian di Israel. Yang jadi pertanyaan adalah mengapa simbol Israel atau Yahudi itu ada di tanah Minahasa. Apakah orang Minahasa keturunan Yahudi? Atau ada sesuatu yang hendak disampaikan. Tidak cukupkah gedung-gedung gereja dengan salibnya untuk menunjukkan bahwa Kristen adalah mayoritas? Kenapa bukan patung Manguni yang megah yang dibangun? Itu kan simbol tou Minahasa? Barangkali rasa penasaran itulah yang menuntun kami sehingga kami menyusuri jalan aspal menuju bukit kaki dian itu. Meski hujan lebat. Untung saja kami sempat bertanya pada dua orang pria di satu sabua. Ternyata kami mengambil jalan yang salah!
“So sala jalang ngoni! Depe jalang ada di bawa!” teriak pemuda yang sedang memasukan barang-barang ke dalam sabua sebelum menyatu dengan air.
Dengan sedikit mengeluh kami menurun jalan itu lagi. Aku melihat tiga orang berjalan di bawah kasur demi melindungi diri dari hujan. Tapi sia-sia. Hujan begitu lebat. Hanya Yanli dan Della yang mengenakkan jas hujan. Aku telah basah kuyub sedari 10 menit lalu. Kami belok ke kiri ketika menemukan pumpunan pepohonan bambu. Terus kami telusuri jalan itu. Kira-kira 300 meter kemudian kami menemukan di sebelah kanan sebuah batu besar yang sudah ditulisi. Isinya kira-kira tentang peresmian gunung Kalabat sebagai tujuan wisata oleh seorang gubernur. Kami menganggap itu sebagai Pos 1. Ternyata tidak. Kami sejauh ini sudah berjalan selama 90 menit. Kurang lebih 100 meter dari situ kami menemukan sebuah gubuk yang berdiri tepat di persimpangan jalan. Setelah disarankan oleh seorang wanita muda yang sedang mengendarai sepeda motor, kami mengambil jalur kiri. Jalannya sudah di-paving. Kelompok lain, Kelompok Pecinta Alam (KPA) dari Manado mengambil jalur kanan. Dan jalur itu salah. Kami sempat tertawa terbahak-bahak ketika melihat mereka berjalan di belakang kami kemudian dengan nafas terengah-engah. Padahal beberapa menit lalu mereka mengambil jalur kanan dan mereka dengan terburu-buru melewati kami.
Jalanan mulai menanjak ketika kami kian berada di tengah-tengah pohon-pohon yang lebat. Itu pertanda kami sedang memasuki hutan. Dan ternyata kami belum mencapai Pos 1. Della kelihatan mulai kelelahan. Langkah-langkah kami otomatis serentak melambat. Kami harus menyesuaikan langkah kami dengan yang paling lambat. Dan orang yang paling lambat harus berada paling depan agar dia tak ketinggalan. Itulah aturan tak tertulis dalam mendaki gunung. 15 menit kemudian kami tiba di Pos 1. Hanya sejenak kami istirahat di situ. Tapi saya menyarankan agar kami melanjutkan perjalanan sebelum hari benar-benar gelap. Kami harus tiba di Pos 2 palng kurang jam 5.30 untuk membuat tenda. Karena di situlah tempat yang baik untuk berhenti. Di situ terdapat air, tempatnya agak terbuka dan agak datar pula. Saat kami tiba, saya langsung mengambil “alih komando”. Secepat kilat tenda pun sudah berdiri dan layak ditempati. Berkat kecepatan Glendi, Jufri, Yanli, Charli, Risky, Chaves dan Rianto kayu bakar pun tersedia. Sedangkan aku bertindak sebagai koordinator alias “tukang ator” hahahahaha….
Malam kami lewati dengan perut yang tak diisi nasi. Hanya sedikit air, biskuit dan kue cucur yang sempat kubeli di kios tempat aku menunggu anggota lain yang berangkat dari Tondano. Yang paling sulit barangkali Yanli. Dia tidur dengan pakaian basah enteru. Meskipun dia tidur di antara lainnya tetap saja raungan lantaran dingin keluar dari mulutnya. Aku sendiri tidur paling tepi. Baju kering yang kukenakan ikut basah oleh tas punggung yand diletakan di pinggir tenda. Karena tak tahan dengan kedinginan dan raungan  serta batuk dingin teman-teman, aku pun keluar dari tenda dan menyalahkan api yang besar dengan bantuan minyak tanah. Lama, baru kami bisa mendapatkan api yang bagus. Maklum, semua kayunya “bangka aer”. Beberapa orang dari KPA Manado yang kebetulan bermungkim dekat tenda terpal kami turut mendekat untuk mengecap sedikit panas api. Mendadak suasana menjadi gaduh. Padahal hari masih jam 2 subuh. Teman-teman setenda saling berebut memanggang pakaian basah mereka. Sampai-sampai beberapa di antaranya hangus oleh api. Keheningan hutan tak ada lagi. Canda tawa menyebar ke sekitar. Kusaksikan area Pos 2 begitu ramai. Berjejer tenda-tenda lainya. Namun sayangnya kami tak sempat berkenalan sebab mereka sudah lebih dulu melanjutkan perjalanan menuju puncak. Kamu hanya terdiam kagum melihat semangat juang mereka melawan dingin dan terpaan hujan.

Minggu, 30 Maret 2014
Sekitar jam 6.30 Rianto dan kawan-kawan lainnya sudah berinisiatif membuat makanan dan minuman. Sedang saya mengambil waktu untuk tidur sejenak lagi untuk mengumpulkan tenaga. Kami berangkat menuju ke Pos selanjutnya sekitar jam 7. Hanya butuh masing-masing 30 menit untuk ke Pos 3 dan Pos 4. Di antara Pos 3 dan Pos 4 kami harus bergelut dengan tanjakkan yang disebut “tangga helikopter”. Jalan berbatu di kemiringan yang curam. Namun, itu tak merendahkan semangat kami. Malahan, kami berlomba sambil bercanda melewatinya.
Di Pos 5 kami bisa menyusul dua rombongan dari KPA lain. terlihat mereka sedang memasak mie instan dengan konfor dan peralatan canggih. Dari sini tanjakkan semakin curam. Aku dan Della menjadi orang yang paling terkebelakang dari tim. Di Pos inilah titik penentuan apakah kami benar-benar punya jiwa penakhluk atau penakut. Rasa sakit pada kaki dan paha semakin menyiksa. Belum lagi rasa lapar yang mulai menuntut. Untunglah di sepanjang jalan kami menemukan aliran air dan sendang atau kolam kecil yang berisi air jernih dan segar.
“Co kwa’ lia tu botol da isi akan aer. So ba ombong. Sama deng baru ambe dari kulkas,” kata Yanli. Kami hanya menyambut pernyataan itu dengan tertawa geli.
Langkah kami semakin lemah dan sedikit gemetar. Nyaris tiap 5 meter kami berhenti. Orang-orang yang sedang turun dari puncak ada yang menyemangati kami. Tapi ada juga yang sedikit sinis dan mengejek. Saat kami bertanya tentang jarak ke puncak, mereka menjawab secara bervariasi. Ada yang bilang masih sekitar 1 km. Ada juga yang bilang, “O korang dekat.” Della yang selalu berharap melihat monyet, permintaannya terkabul saat seekor monyet (yaki) meliwati jalan melalui pepohonan. Sesekali monyet itu berhenti seolah berusaha berkomunikasi dengan kami. Mungkin sekedar basa-basi atau sambutan selamat datang di gunung Kalabat. Tak bisa digambarkan kegirangan Della dengan kemunculan monyet berjambul dan berpantat merah itu.
Aku selalu bilang pada teman-teman supaya tidak usah memikirkan jarak. Dan tidak usah berambisi untuk segera mencapai puncak. Karena menurutku mendaki adalah pembelajaran tentang proses dan hasil. Perjalanan ke puncak harus juga dinikmati. Bukan hanya suasana puncaknya.
Langkah kami menjadi cepat lagi tatkalah sudah terang di hadapan kami bahwa kami sudah di puncak. Ternyata belum. Kami baru berada di Pos 6 dimana terdapat danau kecil. Di area ini kami mendapati banyak tenda didirikan. Saya meminta teman-teman yang sudah lama tiba agar segera mencari tempat untuk mendirikan tenda. Tapi tak ada tempat kosong. Semua telah diduduki oleh tenda-tenda pendaki lain. Tenda-tenda yang dibeli di toko. Karena tak ada tempat, saya langsung menyarankan kepada Jufri agar kami mendirikan tenda di puncak saja. Itu ide yang tak terlalu bagus, mengingat dinginnya udara di puncak yang menusuk tulang. Butuh sekitar 20 menit lagi dari Pos 6 ke puncak. Pergumulan terasa kian berat tapi pendakian tetap kami lakukan dengan semangat karena diimingi oleh pesona puncak.
Begitu kami tiba suasana sedang ramai. Orang-orang sementara turun ke Pos 6 setelah menikmati matahari terbit (Sunrise). Aku langsung meminta teman-teman untuk mendirikan tenda dan mencari bakar serta memasak. Butuh waktu yang agak lama untuk makan. Karena lagi-lagi, semua kayu basah. Tapi kami sedang dalam suasana sangat senang. Kami kini berada di titik paling tinggi di Sulawesi Utara. Dari sini kami bisa melihat kota Bitung, Manado, Airmadidi, Tondano, Likupang, bahkan sebagian kota Tomohon. Kami berada di atas awan! Kami membuang nafas lega dan bangga.
Sehari penuh kami habiskan dengan jalan-jalan di sekitar tenda, menikmati pemandangan, mengambil foto, melihat bunga-bunga dan pepohonan yang hanya ada di puncak gunung. Kami berkenalan dengan beberapa anggota komunitas lain. kami bertegur sapa dengan sopan. Saling mendahului dalam memberi jalan dan hormat. Canda tawa terdengar dimana-mana. Secara hiperbola, kusebut itu sebagai suasana sorga.
Tatkalah hari semakin sore, semua sudah berkumpul lagi di tenda. Udara dingin membuat kami cepat lapar. Dan tentunya di puncak gunung, sore hari, kami lebih membutuhkan api daripada air. Apalagi malam. Kami makan malam dengan menu apa adanya: nasi, ikan kaleng, mie. Kopi telah habis. Ya unik adalah teman-teman lain menikmati daging tikus yang diburu oleh Chaves dengan hanya mengandalkan bunyi mulut dan sepotong kayu. Saat hari sudah malam, kami adalah satu-satunya kelompok yang tertinggal sendiri di puncak. Lainnya telah turun ke Pos 6 untuk menghindari dekapan angin malam yang menusuk tulang. Kami menyadari itu begitu suasana telah lengang. Hanya suara kami yang terdengar. Namun, tentu kami tak ikut-ikutan turun. Godaan pemandangan malam dengan kelap-kelip lampu kota Bitung, Airmadidi dan Manado begitu kuat menahan kami.
Setelah makan malam, tak ada alasan untuk tinggal di luar tenda. Semua harus masuk. Tekanan udaran dingin semakin beringas. Aku merasakan efeknya. Mata mulai berair dan menetes. Sakit kepala. Tulang-tulang bagai ditusuk-tusuk. Namun, kami tetap gaduh. Mungkin itu adalah sebuah pengalihan. Ada yang iseng berebut selimut atau sepenggal kain yang digunakan untuk menutup kaki. Semakin larut semakin kami menjadi susah tidur. Chaves berinisiatif bangun dan memperbesar nyala api. Barangkali dialah yang paling menderita saat itu. Karena dia hanya menggunakan pakaian satu lapis. Kaos tipis dan celana pendek. Aku saja, berlapis tiga, pakai topi kupluk, berkaos tangan dan kaki, tetap merasakan cengkraman dingin. Apalagi dia. Oh Chaves!
Senin, 31 Maret 2014
Menikmati matahari terbit di puncak Kalabat adalah pengalaman yang luar biasa. Dan kami menikmatnya dengan sangat. Udara dingin pergi menjauh seiring datangnya sang mentari yang muncul di balik awan. Ditemani biskuit dan minuman panas kami melewati pagi dengan tenang dan tentram. Sesuai jadwal kami harus turun gunung pagi-pagi. Namun, rasa tak rela muncul tiba-tiba. Enggan meninggalkan surga. Enggan berpisah dengan kayangan. Enggan kembali ke tempat yang penuh hiruk pikuk dan semrawut. Tapi, apa boleh buat. Kami harus bangun dari mimpi dan kembali ke dunia sebenarnya.
Kami menuruni puncak, melewati Pos 6, 5, 4, 3 dengan agak enteng. Sempat melihat seekor monyet lagi yang menyeberangi jalan. Nampaknya itu ucapan selamat bertemu darinya. Di Pos 3 kami berhenti dan makan masakan Rianto. Saya dan Della sempat berkunjung ke sebuah sendang dekat Pos itu. Suasana sejuk dan pemandangan elok begitu terasa. Di sana kami mencuci peralatan makan. Teman-teman lainnya mencari kayu bakar. Sempat tidur sejenak sebelum makan siang.
Kami melanjutkan perjalanan dengan kaki yang sakit. Sampai-sampai perjalanan menjadi sedikit melambat. Kami menggunakan waktu beristirahat di setiap Pos atau titik henti untuk bersenda gurau dan tentunya mengambil foto… Kami tiba di kota Airmadidi, singgah melapor di kantor polisi. Selanjutnya menuju persimpangan jalan ke Tondano. Tak sampai 5 menit mobil pick up berwarna hitam berhenti setelah saya cegat. Rasa lelah sejenak hilang ketika melihat teman-teman saya sudah melompat ke atas mobil dan sedang membawa mereka. Aku sempat melihat Glendi melambai… Doa dan harapku mereka tiba di tujuan dengan selamat.
Aku sendiri langsung berjalan kaki ke terminal Tumatenden Airmadidi dan naik mikro menuju Paal Dua. Dari Paal Dua aku mencegat mobil ke pasar 45….. sekarang aku telah kembali ke kota….bising, udara yang tercemar….tapi pikiranku masih di puncak Kalabat…menghirup udara segar, meneguk air sejuk, merasai angin sepoi-sepoi nan lembut….Kalabat Oh Kalabat….sampai jumpa di lain waktu.
***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar